ADVERTISEMENT

P3M Pascasarjana Unas Respon Genjatan Senjata Palestina-Israel Dalam International Talk

Kemerdekaan Palestina Adalah Kata Kunci Perdamaian

 

Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M) Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional bekerjasama dengan Nassar Foundation Malaysia merespon gencatan senjata Palestina-Israel melalui international talk bersama aktivis dunia. Hadir dalam kegiatan tersebut Mufti of Australia Darul Fatwa Australia Dr. Sheikh Salim Alwan Al-Hussainiyy, Mufti of Ukraine, President of the Islamic University, Ukraine Dr. Sheikh Ahmad Tamim, The Chairman of Nassar Foundation, Malaysia Dato Dr. Nasharudin Mat Isa.

Baca Juga

Selain itu, hadir pula Researcher From Gaza, Palestine Dr. Syarif Syamalla, Associate Professor Frostburg State University Maryland, USA Dr. Haiyun Ma, Faculty member at the School of Global Studies, Thammasat University Bangkok, Thailand Dr. Sheikh Mohammad Altafur Rahman, General Secretary of The India Forum for Moderation and Dialogue, India Dr. Muhammad Saleem Nadwi, dan Indonesia Council of Ulama (MUI), International Analyst from Universitas Nasional Dr. Robi Nurhadi.

Kegiatan International Talk “Palestine: Post Ceasefire, International Response” diselenggarakan pada Kamis, (27/05/20121) melalui aplikasi zoom meeting. Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Direktur Sekolah Pascasarjana UNAS Prof. Dr. Maswadi Rauf, M.A. Agenda utama kegiatan ini merupakan respon terhadap kesepakatan Palestina dan Israel untuk melakukan gencatan senjata pada Jumat 21 Mei 2021, dimana gencatan senjata ini sedikit meredakan suasana konflik antara kedua belah pihak. Gencatan senjata yang dilakukan pihak yang bertikai tersebut, disambut baik oleh para pemimpin negara di seluruh dunia dan sekaligus menyerukan Palestina dan Israel untuk bergerak menuju perdamaian.

Kepala P3M Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional, Dr. Robi Nurhadi mengatakan bahwa tujuan dari diadakannya international talk ini adalah membangun gelombang artikulasi politik dari non-state actors agar dapat memberi penguatan perdamaian yang lebih substantif dan kuat pasca gencatan senjata.

Ia menjelaskan bahwa inisiatif penyelenggaraan international talk bermula dari situasi konflik yang terjadi di Palestina. Pada tataran strategis, lanjut Robi, diskusi ini diharapkan dapat mendorong lahirnya cluster baru yang ditopang oleh non-state actors untuk penciptaan solusi damai Palestina yang substansial.

“Dunia sudah cukup memberikan ruang kepada state actors dalam mencari solusi damai namun hasilnya masih seperti yang kita lihat saat ini. Momentum ceasefire ini seharusnya dapat digunakan oleh non-state actors untuk menciptakan tatanan orde baru dunia dengan tujuan melahirkan kemerdekaan bagi Negara Palestina,” katanya dalam International Talk.

Robi menambahkan, kemerdekaan Palestina menjadi kata kunci untuk menghentikan peningkatan jumlah korban yang meninggal di Palestina dan Israel. Sehingga kemerdekaan Palestina sangat penting dan perlu diakui bersama-sama.

“Negara-negara dunia dengan organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan untuk membangun perdamaian Palestina-Israel. Tetapi mereka tidak tahu bagaimana berhenti sejenak untuk berhenti memikirkan posisi siapa mereka dalam sistem dunia modern saat ini,” kata Robi.

Ia juga menyebut, para pemimpin negara yang terlibat dalam debat isu Palestina-Israel lebih tertarik untuk memastikan siapa yang mendapatkan apa atau siapa yang menjadi negara inti. Dari pada menggunakan kekuatan negara untuk menegakkan keadilan bagi Palestina dan membangun perdamaian sejati untuk Palestina-Israel.

Karena itu, Robi mengajak rakyat di dunia untuk bersama-sama mengakui kemerdekaan Palestina dan mendukung tercapainya perdamaian dengan Palestina sebagai negara yang berdaulat.

“Kami menyerukan kepada warga dunia untuk tetap menjadi manusia dalam menghadapi setiap konflik internasional. Karena hanya perlu sebagai manusia untuk memastikan perdamaian Palestina-Israel terwujud. Jika pemerintah berbagai negara di dunia tidak ingin mengakui kemerdekaan Palestina yang sebenarnya, maka kami menyerukan kepada semua rakyat, dimanapun negara mereka berada, untuk memberikan pengakuan kepada negara Palestina yang berdaulat dengan wilayah yang jelas,” jelasnya.

Faculty member at the School of Global Studies, Thammasat University Bangkok, Thailand Dr. Sheikh Mohammad Altafur Rahman menjelaskan bahwa pertarungan yang terjadi ini bukan pertama kali dilakukan. Dalam pertarungan singkat antara kedua negara telah merenggut banyak korban sehingga perlu solusi tepat untuk membantu palestina diantaranya bantuan medis & psikologis, rehabilitasi & rekonstruksi, akhir penjara terbesar di dunia, membangun keadilan.

Ia juga menuturkan, terdapat tiga aspek respon atas konflik Palestina dan Israel yaitu political response, military response, dan solidarity response. “Secara dukungan politik apa yang dilakukan oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tidak efektif, dimana pertikaian antara kedua belah pihak masih terjadi, sehingga perlu adanya perubahan dengan dukungan politik Amerika Serikat sementara untuk military support perlu adanya dukungan untuk senjata strategis dan membantu memberi batasan dalam mengakses Gaza, dan terakhir perlunya dukungan ekonomi, solidaritas Global & pengembangan opsi internasional, serta menjangkau dunia-dunia muslim,” ungkapnya.

Sementara itu, The Chairman of Nassar Foundation, Malaysia Dato Dr. Nasharudin Mat Isa mengatakan untuk membantu konflik antara palestina dan
Israel diperlukan peran non state actor yang dilakukan secara bersama-sama.

Selain itu, Nasharudin pun menuturkan untuk membantu warga Palestina dari konflik diperlukan peran dewan keamana. Selain untuk mencegah adanya konflik keberlanjutan dewan keamaman juga dapat membantu dalam proses rebuilding.

“Setelah terjadinya pertikaian fasilitas maupun rumah warga hancur dan dalam melakukan perbaikan dilakukan bukan dewan keamanan yang turun tangan namun para civil society, Non Governmental Organisation (NGO) dan personality dengan satu tangan dan kita harus membantu warga gaza, memprioritaskan pendidikan untuk warga gaza, prioritas kesehatan untuk warga Gaza sehingga dengan kerja keras tingkat pendidikan warga gaza menjadi tinggi tapi itu semua diperlukan dukungan dari para negara-negara dengan memberikan ide demi membangun gaza,” kata Nasharudin. (*DMS)

Related Posts

Leave Comment

Terbaru

KLIK MAGAZINE